Oleh: Muh. Sulfihidayatullah
Pilkada dengan calon tunggal menghadirkan tanda tanya dalam demokrasi lokal, apakah ia sekadar formalitas elektoral atau tetap menjadi arena pertarungan gagasan dan legitimasi. Dalam konteks Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2024 pasangan Andi Rudi Latif-Bahsanuddin (ARB) bukan hanya melawan “kotak kosong” tetapi berhadapan dengan tantangan legitimasi publik. Kondisi tersebut bisa saja menjadi dilema karena pada sudut pandang yang lain calon tunggal tidak hanya dilihat sebagai sebuah dominasi politik tetapi ketiadaan lawan juga menjadi opsi hadirnya kekhawatiran politik pada masyarakat, sehingga penting membangun kepercayaan publik pada momentum kontestasi.
Perspektif Dan Nimmo dalam Political Communication and the Citizen, kajian ini menempatkan politik sebagai proses penciptaan dan penggunaan simbol. Politik bukan semata soal perebutan kursi, melainkan tentang bagaimana makna diproduksi, disebarkan, dan diterima oleh warga. Dalam kerangka Nimmo, ada tiga elemen penting yaitu komunikator politik, pesan politik, dan saluran atau media politik ketiganya tampak bekerja secara simultan dalam strategi ARB.
Pada sisi komunikator politik ARB tidak berdiri sebagai figur individual semata tetapi sebagai representasi koalisi elite dan jaringan sosial yang luas. Kehadiran tokoh-tokoh berpengaruh di belakang pasangan ini memperkuat posisi simbolik mereka sebagai kandidat yang pasti menang. Dalam perspektif Nimmo, komunikator politik yang efektif adalah mereka yang memiliki kredibilitas (credibility), daya tarik (attractiveness), dan kekuasaan (power). ARB dengan latar belakang pengalaman politik dan dukungan elite lokal, berhasil membangun ketiganya secara bersamaan.
Pada aspek pesan politik Karena tidak ada rival yang harus diserang, strategi komunikasi ARB lebih banyak menonjolkan pesan legitimasi, ajakan partisipasi, serta penguatan citra kepemimpinan yang merakyat. Ini menarik dalam situasi kompetisi normal, kampanye sering berisi diferensiasi dan konfrontasi, namun dalam kasus calon tunggal pesan politik bergeser menjadi persuasi moral mengajak masyarakat datang ke TPS, memilih, dan tidak golput. Pesan tersebut dibingkai dalam narasi pembangunan dan stabilitas daerah.
Teori Nimmo menemukan relevansinya politik sebagai simbol tampak dalam penggunaan citra blusukan, deklarasi dukungan kelompok masyarakat, serta penguatan visual di media sosial. Simbol-simbol ini tidak netral ia mengonstruksi persepsi bahwa dukungan terhadap ARB adalah arus utama.
Saluran komunikasi politik pada kajian ini menunjukkan optimalisasi media lokal, media daring, dan media sosial sebagai instrumen utama. Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi pembentuk agenda (agenda setter). Pemberitaan tentang deklarasi partai, dukungan tokoh, dan aktivitas kandidat memperkuat eksposur publik. Dalam logika Nimmo, media menjadi arena produksi simbol yang mempertemukan elite dan warga. ARB tampaknya memahami bahwa dalam politik modern, visibilitas sama pentingnya dengan elektabilitas.
Hasilnya terlihat nyata perolehan suara 91,46 persen, angka ini bukan hanya statistik, melainkan simbol legitimasi. Namun, di sinilah ruang refleksi perlu dibuka. Apakah dukungan mayoritas tersebut sepenuhnya lahir dari kesadaran rasional pemilih, atau juga dipengaruhi oleh efek kecenderungan memilih pihak yang dipersepsikan unggul. Dalam teori komunikasi politik, efek ini kerap muncul ketika opini publik dibentuk melalui repetisi simbol kemenangan.
Kajian ini secara kuat menunjukkan bahwa kemenangan ARB bukanlah peristiwa yang terjadi secara otomatis karena status calon tunggal. Ia merupakan hasil orkestrasi komunikasi yang terencana. Fenomena calon tunggal tetap menyisakan pertanyaan normatif tentang kualitas demokrasi, Demokrasi yang sehat bukan hanya tentang angka kemenangan, tetapi juga tentang kompetisi gagasan.
Kajian ini membuktikan bahwa bahkan dalam situasi minim kompetisi, strategi komunikasi tetap menentukan. Pilkada Tanah Bumbu 2024, simbol legitimasi berhasil dibangun secara efektif oleh ARB dan publik meresponsnya dengan suara mayoritas.
(Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Islam Kalimantan)

