Ketua Bidang Komunikasi dan Media PCPM Batulicin Tegas Tolak LGBT, Soroti Maraknya Ekspresi di Media Sosial

Ketua Bidang Komunikasi dan Media Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Batulicin, Rafael Zasia, menyampaikan sikap tegas terhadap fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang dinilainya semakin terlihat di ruang publik, khususnya melalui berbagai platform media sosial. Rafael menegaskan bahwa sikap penolakan tersebut merupakan bagian dari prinsip dan nilai yang menjadi pegangan organisasi.

tepinarasi
By
4 Min Read
Rafael Zasia

BATULICIN — Ketua Bidang Komunikasi dan Media Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Batulicin, Rafael Zasia, menyampaikan sikap tegas terhadap fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang dinilainya semakin terlihat di ruang publik, khususnya melalui berbagai platform media sosial. Rafael menegaskan bahwa sikap penolakan tersebut merupakan bagian dari prinsip dan nilai yang menjadi pegangan organisasi.

Rafael mengatakan, tidak ada ruang bagi dirinya untuk membenarkan LGBT sebagai sesuatu yang layak dinormalisasi di tengah masyarakat. Ia menilai fenomena tersebut perlu disikapi secara serius, terlebih ketika ekspresi yang berkaitan dengan LGBT ditampilkan secara terbuka dan dikonsumsi oleh masyarakat luas melalui media digital.

“Sikap kami jelas dan tegas, kami menolak LGBT. Kami tidak ingin LGBT dinormalisasi, dipromosikan, ataupun dianggap sebagai sesuatu yang biasa melalui ruang publik maupun media sosial. Ini merupakan sikap prinsip yang tidak bisa kami tawar,” tegas Rafael, Minggu (9/8/2026).

Menurut Rafael, media sosial saat ini memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi masyarakat, terutama generasi muda. Konten yang awalnya dianggap sebagai ekspresi pribadi dapat dengan cepat menjadi konsumsi publik dan berpotensi membentuk persepsi bahwa perilaku tertentu merupakan sesuatu yang lumrah. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak pasif menghadapi perkembangan tersebut.

Bupati Andi Rudi Latif Hadiri Launching Antologi “Suara dari Tenggara”

Rafael menilai normalisasi LGBT melalui media sosial harus mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Ia mendorong orang tua, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, tokoh agama, dan pemerintah untuk memperkuat pendidikan karakter serta literasi digital agar generasi muda memiliki pegangan nilai yang kuat ketika berhadapan dengan berbagai konten di internet.

“Kami tidak sepakat dengan upaya normalisasi LGBT dalam bentuk apa pun. Jangan karena sesuatu terus muncul di media sosial kemudian masyarakat menganggapnya benar atau harus diterima. Viral bukan berarti benar, dan banyak ditampilkan bukan berarti harus dinormalisasi,” ujarnya.

Ia juga meminta para pembuat konten dan pengguna media sosial mempertimbangkan dampak dari konten yang mereka sebarkan. Menurutnya, kebebasan berekspresi tetap harus dibarengi tanggung jawab, terutama ketika sebuah konten dapat memengaruhi cara pandang anak-anak dan remaja.

Bagi Rafael, persoalan LGBT tidak cukup hanya dipandang sebagai tren yang muncul di media sosial. Ia menilai diperlukan sikap yang lebih tegas dari lingkungan sosial untuk menjaga nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Karena itu, ia berharap ruang digital tidak menjadi tempat berlangsungnya kampanye atau normalisasi LGBT tanpa adanya kritik dan pembahasan yang berimbang.

Rafael menegaskan bahwa Pemuda Muhammadiyah harus mengambil posisi yang jelas dalam menghadapi isu tersebut. Menurutnya, organisasi kepemudaan tidak boleh hanya menjadi penonton ketika terjadi perubahan sosial di masyarakat, tetapi harus aktif memberikan edukasi dan menyampaikan sikap berdasarkan nilai agama, moral, dan prinsip organisasi.

“Kami tidak akan ikut dalam arus yang mencoba menjadikan LGBT sebagai sesuatu yang normal. Sikap penolakan ini akan terus kami sampaikan secara terbuka. Kami ingin generasi muda Tanah Bumbu memiliki pegangan nilai yang kuat dan tidak mudah terbawa arus konten media sosial,” kata Rafael.

Ia berharap persoalan tersebut menjadi perhatian bersama di Tanah Bumbu. Rafael menekankan bahwa sikap organisasi yang menolak LGBT akan tetap disampaikan secara konsisten melalui ruang-ruang edukasi dan komunikasi publik. Menurutnya, ketegasan sikap diperlukan agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak kehilangan arah di tengah derasnya perkembangan informasi dan ekspresi di media sosial.( upi)

Share This Article
5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x